Dalam beberapa waktu terakhir, di media sosial banyak beredar kabar tentang berbagai peristiwa kekerasan yang memilukan. Kekerasan tersebut tidak hanya terjadi terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap hewan.
Seekor anjing tak bertuan yang lucu dan jinak, serta tidak pernah mengganggu manusia, tinggal disebuah saluran air (drainase) di gang kecil di Desa Jieyang, Provinsi Guangdong, China. Anjing tersebut bernama Wang-wang dan baru saja melahirkan tiga ekor anak (puppies) yang berusia empat belas hari.
Namun, pada 28 Juni 2026, sekelompok remaja dengan sengaja telah menyiksa Wang-wang beserta anak-anaknya hingga mati. Mereka merekam dan memviralkan aksi brutal tersebut. Ketiga anak wang-wang yang masih bayi dan matanya belum melek pun dipukul dengan tongkat dan disiksa hingga mati.
Wang-wang disiksa dengan cara yang sama seperti anak-anaknya. Tubuhnya disiram bensin, kemudian dibakar hidup-hidup hingga Wang-wang pun mati. Tindakan butal sekelompok remaja tersebut telah memicu kemarahan dari berbagai negara, terutama dari para pets lover.
Peristiwa ini bukan sekadar hilanganya nyawa hewan, melainkan juga hilangnya rasa empati dan welas asih manusia terhadap mahkluk hidup lain yang juga sama-sama ciptaan Tuhan.
Belum lagi kasus terbaru pembunuhan yang diduga dilakukan oleh sekelompok remaja yang sakit hati setelah aksi vandalisme mereka ditegur oleh seorang security. Korban, Sumarna (43), ditemukan meninggal dunia di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, pada 24 Juli 2026 dengan kondisi tangan dan kaki terikat serta mulut dilakban. Peristiwa ini seolah menunjukkan bahwa nyawa manusia tidak ada harganya!!
Meningkatnya tindakan kekerasan oleh manusia merupakan indikator bahwa sebagian manusia telahkehilangan jati dirinya sebagai gambaran atau citra Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang memiliki rasa simpati dan empati.
Hakikat manusia adalah mahkota ciptaan, mahkluk paling mulia, berbudi pekerti, dan mewarisi sifat-sifat Allah. Menghargai sesama manusia serta menyayangi mahkluk hidup lain seperti hewan dantumbuhan merupakan bentuk rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa Sang Pencipta alam semesta. (Guru Pendidikan Agama Kristen , Jenni Harjanti)


