Ketika Benang & Puzzle Menghidupkan Biologi: Langkah Nyata Mahasiswa PLP UNESA Dukung SDGs di SMA Hang Tuah 2 Sidoarjo

Belajar sains tidak selalu harus dilakukan melalui buku teks dan papan tulis. Pembelajaran yang bermakna menuntut peserta didik tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang aktif, menarik, dan kontekstual. Berangkat dari semangat tersebut, mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang melaksanakan Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) di SMA Hang Tuah 2 Sidoarjo menghadirkan inovasi pembelajaran yang mengubah konsep-konsep Biologi yang abstrak menjadi pengalaman belajar yang lebih nyata, visual, dan menyenangkan.

Melalui proyek kolaboratif ini, mahasiswa PLP berhasil mengembangkan dua media edukatif, yaitu Eco Stringboard dan Bone Puzzle Rangka Manusia. Kedua inovasi tersebut dirancang untuk membantu peserta didik memahami konsep materi Biologi secara lebih konkret, visual, dan mudah dipahami melalui aktivitas belajar yang melibatkan partisipasi langsung siswa.

Eco Stringboard: Merangkai Kehidupan dalam Sebuah Ekosistem

Eco Stringboard dikembangkan dalam lima tema ekosistem, yaitu ekosistem sawah, danau, laut, padang rumput, dan pantai. Keberagaman tema tersebut memungkinkan peserta didik mempelajari karakteristik setiap ekosistem beserta interaksi yang terjadi di dalamnya. Media yang telah diterapkan pada pembelajaran kelas X SMA Hang Tuah 2 Sidoarjo ini, dikembangkan oleh mahasiswa Pendidikan Biologi UNESA, yaitu Aidha Rizki Rosiananda, Aisyah Nur Fadilah, Warda Najwa Diana, Nabila Zalzabilla Putri Ibrahim, dan Mu’izzatul Khuluqiyyah.

Eco Stringboard merupakan media pembelajaran interaktif yang mengajak peserta didik menyusun hubungan antar makhluk hidup dalam ekosistem. Dengan menghubungkan berbagai komponen menggunakan benang, siswa dapat membangun rantai makanan dan jaring-jaring makanan secara mandiri. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya menghafal peran produsen, konsumen, dan dekomposer, tetapi juga memahami bagaimana keseimbangan ekosistem terbentuk melalui hubungan yang saling berkaitan.

Bone Puzzle: Mengenal Tubuh Manusia Satu Potongan demi Potongan

Bone Puzzle Rangka Manusia yang berhasil dikembangkan oleh mahasiswa Pendidikan Biologi UNESA, yaitu Nabilla Zainiyatul Atqiyah Sholihah, Putri Anggun Nur Hidayati, dan Rahmania Dwi Pratiwi ini, hadir sebagai media pembelajaran yang mengajak peserta didik kelas XI SMA Hang Tuah 2 Sidoarjo dalam mengeksplorasi rangka manusia melalui aktivitas bermain sambil belajar. Dalam kegiatan ini, siswa menyusun potongan-potongan tulang pada posisi yang tepat hingga membentuk rangka manusia secara utuh. Produk ini dikembangkan berdasarkan kebutuhan pembelajaran di sekolah mitra untuk mengatasi kesulitan peserta didik dalam memahami konsep klasifikasi tulang yang selama ini cenderung disampaikan secara teoritis.

Melalui proses tersebut, peserta didik memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai struktur, letak, dan fungsi tulang penyusun rangka manusia. Aktivitas belajar berbasis puzzle juga membantu meningkatkan daya ingat, ketelitian, kemampuan pemecahan masalah, serta rasa ingin tahu terhadap anatomi tubuh manusia dan berpusat pada peserta didik sehingga mampu meningkatkan keterlibatan siswa selama proses pembelajaran. Dibandingkan hanya mengamati gambar pada buku teks, pengalaman belajar melalui penyusunan puzzle memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berinteraksi langsung dengan materi sehingga konsep yang dipelajari menjadi lebih mudah dipahami dan diingat.

Belajar dengan Berkarya, Menginspirasi dengan Inovasi

Pengembangan kedua media tersebut menunjukkan bagaimana kreativitas mahasiswa dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih aktif, menyenangkan, dan bermakna. Melalui pemanfaatan inovasi ini, mahasiswa PLP Pendidikan Biologi UNESA turut berkontribusi dalam mendukung pembelajaran yang berpusat pada peserta didik serta menumbuhkan budaya belajar yang lebih eksploratif dan saintifik di SMA Hang Tuah 2 Sidoarjo.

Diharapkan penggunaan media pembelajaran ini dapat meningkatkan pemahaman konsep Biologi, keterampilan berpikir ilmiah, kemampuan memecahkan masalah, serta minat peserta didik terhadap pembelajaran sains.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *